Selasa, 01 Juli 2014
ICEMAN 3d : JIKA DONNIE YEN BERKELANA KE MASA DEPAN
Tahun1989 sebuah film kungfu-fantasy “The Iceman Cometh” dirilis. Film yang berkisah seorang prajurit dinasti Ming yang melintasi waktu ke masa depan. “Iceman 3D” adalah versi remake dari film tersebut. Menyandingkan aktor laga Donnie Yen (Ip Man) dengan jagoan komik banget Wang Baoqiang (Lost in Thailand) dalam sebuah epik fantasi, merupakan jurus marketing untuk menembus pasar China dan internasional.
Film aslinya digarap sutradara Clarence Fok dengan menyuguhkan aksi pertarungan dan chemistry antara Yuen Biao dan Maggie Cheung, dikenang karena disisipi humor dalam durasi laga tingkat tinggi.“Iceman 3D” digarap dengan illustrasi komik mewah dan sangat memanjakan mata.Tak heran dikabarkan film ini sempat melebihi budget yang dianggarkan.
Iceman 3D dibuka dengan kecelakaan yang menimpa sebuah truck dari China yang tengah melintasi jembatan Tsing Ma dii Hong Kong.Sebuah inkubator besar terlepas dan memunculkan sosok He Ying (Yen), seorang prajurit dari zaman dinasti Ming. Rupanya Ying adalah pengawal khusus kerajaan. Pada Dinasti Ming, ada empat anak yatim, Ying , Yuanlong (Simon Yam), Sao (Wang Baoqiang) dan Niehu (Yu Kang). Dibesarkan di Desa Taoyuan , sebagai empat saudara dekat. Seni bela diri yang luar biasa memungkinkan mereka untuk mencapai peringkat tertinggi di antara para penjaga kekaisaran.Mereka diperintah untuk membunuh pemimpin pasukan Jepang, dan kembali dalam kemenangan. Kaisar kemudian memerintahkan Ying untuk mengawal Golden Wheel of Time dari India kembali ke ibukota. Alat ini dikatakan memiliki kekuatan menembus waktu dan meramalkan masa depan.
Dalam perjalanan mengawal, Ying dijebak oleh saudara-saudaranya dan dia memilih untuk melawan mereka. Duel dianatara saudara tersebut telah mengguncang bumi, dan mengubur empat bersaudara.Perjalanan dalam waktu 400 tahun hingga Hong Kong modern, Ying terlepas dan bertemu Mei (Eva Huang) yang memberinya tempat berlindung.
May adalah seorang gadis jalanan yang hidup di tengah kerasnya dunia Hong Kong. Pertemuan dua generasi memunculkan banyak komedi situasi. Termasuk di antaranya kesalahan Ying menyangka toilet sebagai mata air. Pola yang sma dlam film Hollywood: Bone.Kelucuan dibangun dengan keterlibatan ibu May yang cerewet(Bonnie Wong).
Kehadiran Ying di Hong Kong menjadikannya buruan utama, bukan hanya bagi Sao dan Nie, tapi juga komplotan penyeludup (Simon Yam dan Lam Suet). Konflik di antara mereka berlima inilah yang membangun sebuah kisah dalam Iceman 3D.Belum lagi perebutan dan konspirasi reliks dari India membawa Ying bertualang di dunianya yang baru.
Penata kamera Lam Fung (Lan Kwai Fong series) mampu memanjakan mata para pemirsa lewat tampilan visual yang menakjubkan. Sayangnya, tidak didukung naskah dan plot yang baik. Banyak sekali lubang di sana-sini sehingga membuat beberapa adegan terasa lambat atau salah timing. Tapi, bagi penggemar aksi Donnie Yen dan Simon Yam, tentu saja film ini sayang untuk dilewatkan.
Sutradara : Law Wing-cheung
Produser : Stephen Shiu, Stephen Shiu Jr., Huang Jianxin
Penulis Naskah : Stephen Shiu
Pemain : Donnie Yen, Simon Yam, Eva Huang, Wang Baoqiang, Benny Chan, Bai Baihe, Jaqueline Chong, Mark Wu
Senin, 30 Juni 2014
BRICK MANSION : REMAKE DISTRICK 13 YANG KERING GREGET
Brick Mansions sebagai remake film Prancis 2004 lalu, District B13, adalah sebuah film yang tanpa greget. Brick Mansions dirilis untuk memperingati 10 tahun dari versi aslinya. Bersama dengan David Belle dan RZA, Paul Walker menjadi andalan produser untuk menyihir penonton terkagum dengan aksi parkour yang sudah menjadi ciri khas dari film District B13.
Di pra-credit film ditayangkan Walikota Detroit (Bruce Ramsay) hendak memperbaharui Detroit termasuk Brick Mansion agar menjadi kawasan bisnis yang maju, entah dengan cara apa. Brick Mansion adalah sebuah kawasan “hitam” di Detroit. Pemerintah memutuskan untuk mengucilkan kawasan itu dengan membangun benteng kokoh dan perbatasannya dijaga oleh militer. Sekolah, rumah sakit, dan pelayanan umum lainnya tidak didirikan di kawasan itu. Bandar narkoba dan kekerasan berkembang pesat di daerah itu, jaringannya dipimpin oleh Tremaine (RZA). Namun tidak semua penduduk kawasan itu adalah penjahat. Masih ada Lino (David Belle) dan mantan pacarnya Lola (Catalina Denis) yang dengan mulianya berusaha menyerahkan Tremaine ke polisi.
Namun sayang, hukum pun sudah dibeli oleh uang. Di sisi lain kota, seorang detektif bernama Damien Collier (Paul Walker) terobsesi untuk menaklukkan jaringan Tremaine demi membalas dendam . Sang ayah diduga dihabisi oleh Tremaine. Akhirnya Collier mendapat tugas dari Walikota Detroit untuk menyusup ke Brick Mansion dengan bantuan Lino. Misinya adalah untuk menemukan bom yang dicuri dan tidak sengaja diaktifkan oleh Tremaine. Bom tersebut bisa meluluh-lantakkan Brick Mansion. Namun semakin dekat dengan penemuan bom itu, Collier menemukan hal-hal janggal yang membuatnya ragu, siapakah yang bisa ia percaya.
Film ini mungkin dimaksudkan sebagai sindiran terhadap Pemerintahan Amerika (dan negara lainnya). Bahwa hukum yang seharusnya melindungi rakyat, kadang kala justru dipakai untuk kepentingan pribadi dan mengorbankan rakyat. Meksipun film ini memiliki pesan yang mulia, sayangnya plot cerita yang ada sangat berantakan. Banyak hal-hal tidak logis yang terjadi, misalnya si A bisa mengetahui bahwa si B ada di mana dengan sangat mudah, semua orang tampak bodoh dan mudah tertipu, semua orang bisa membuka borgol dengan mudah, semua orang menjadi teknisi handal yang bisa menyala-matikan bom, dan semua orang tiba-tiba bisa berada di tempat yang berbeda dengan waktu yang singkat, dan masih banyak lainnya.
Selain itu, dialog dan akting para pemeran di sini juga sangat mengganggu. Sebagian besar dari kita tidak akan bisa bersimpati atau bahkan merasa yang terjadi di film adalah “sungguh-sungguh” karena dialog dan muka mereka terlalu datar! Terutama RZA yang sekali lagi mengambil peran penting dalam film, tetapi tidak ada kemajuan dalam aktingnya.
Yang dapat dinikmati dalam film ini hanyalah duet David Belle dan Paul Walker yang sebenarnya cukup seru dan menyenangkan untuk dilihat. Adegan aksi dan pertarungan pun terasa lebih segar dengan seni bela diri parkour yang sering dipamerkan David Belle. Mungkin film ini bisa lebih terasa menegangkan dan nyata, apabila sutradara Camille Delamarre tidak berlebihan menggunakan teknik slow motion yang justru membuat segala sesuatunya terlihat konyol dan lebay.
Produser : Luc Besson, Ryan Kavanaugh, Claude Leger, Tucker Tooley, Jonathan Vanger
Sutradara : Camille Delamarre
Penulis Naskah : Luc Besson, Robert Mark Kamen, Bibi Naceri
Aktor dan Aktris : Paul Walker, David Belle, RZA, Catalina Denis
Di pra-credit film ditayangkan Walikota Detroit (Bruce Ramsay) hendak memperbaharui Detroit termasuk Brick Mansion agar menjadi kawasan bisnis yang maju, entah dengan cara apa. Brick Mansion adalah sebuah kawasan “hitam” di Detroit. Pemerintah memutuskan untuk mengucilkan kawasan itu dengan membangun benteng kokoh dan perbatasannya dijaga oleh militer. Sekolah, rumah sakit, dan pelayanan umum lainnya tidak didirikan di kawasan itu. Bandar narkoba dan kekerasan berkembang pesat di daerah itu, jaringannya dipimpin oleh Tremaine (RZA). Namun tidak semua penduduk kawasan itu adalah penjahat. Masih ada Lino (David Belle) dan mantan pacarnya Lola (Catalina Denis) yang dengan mulianya berusaha menyerahkan Tremaine ke polisi.
Namun sayang, hukum pun sudah dibeli oleh uang. Di sisi lain kota, seorang detektif bernama Damien Collier (Paul Walker) terobsesi untuk menaklukkan jaringan Tremaine demi membalas dendam . Sang ayah diduga dihabisi oleh Tremaine. Akhirnya Collier mendapat tugas dari Walikota Detroit untuk menyusup ke Brick Mansion dengan bantuan Lino. Misinya adalah untuk menemukan bom yang dicuri dan tidak sengaja diaktifkan oleh Tremaine. Bom tersebut bisa meluluh-lantakkan Brick Mansion. Namun semakin dekat dengan penemuan bom itu, Collier menemukan hal-hal janggal yang membuatnya ragu, siapakah yang bisa ia percaya.
Film ini mungkin dimaksudkan sebagai sindiran terhadap Pemerintahan Amerika (dan negara lainnya). Bahwa hukum yang seharusnya melindungi rakyat, kadang kala justru dipakai untuk kepentingan pribadi dan mengorbankan rakyat. Meksipun film ini memiliki pesan yang mulia, sayangnya plot cerita yang ada sangat berantakan. Banyak hal-hal tidak logis yang terjadi, misalnya si A bisa mengetahui bahwa si B ada di mana dengan sangat mudah, semua orang tampak bodoh dan mudah tertipu, semua orang bisa membuka borgol dengan mudah, semua orang menjadi teknisi handal yang bisa menyala-matikan bom, dan semua orang tiba-tiba bisa berada di tempat yang berbeda dengan waktu yang singkat, dan masih banyak lainnya.
Selain itu, dialog dan akting para pemeran di sini juga sangat mengganggu. Sebagian besar dari kita tidak akan bisa bersimpati atau bahkan merasa yang terjadi di film adalah “sungguh-sungguh” karena dialog dan muka mereka terlalu datar! Terutama RZA yang sekali lagi mengambil peran penting dalam film, tetapi tidak ada kemajuan dalam aktingnya.
Yang dapat dinikmati dalam film ini hanyalah duet David Belle dan Paul Walker yang sebenarnya cukup seru dan menyenangkan untuk dilihat. Adegan aksi dan pertarungan pun terasa lebih segar dengan seni bela diri parkour yang sering dipamerkan David Belle. Mungkin film ini bisa lebih terasa menegangkan dan nyata, apabila sutradara Camille Delamarre tidak berlebihan menggunakan teknik slow motion yang justru membuat segala sesuatunya terlihat konyol dan lebay.
Produser : Luc Besson, Ryan Kavanaugh, Claude Leger, Tucker Tooley, Jonathan Vanger
Sutradara : Camille Delamarre
Penulis Naskah : Luc Besson, Robert Mark Kamen, Bibi Naceri
Aktor dan Aktris : Paul Walker, David Belle, RZA, Catalina Denis
Kamis, 26 Juni 2014
22 JUMP STREET : KEMBALINYA DUA POLISI UNDERCOVER GILA
22 Jump Street adalah sebuah film action komedi yang diproduksi juga dibintangi oleh Jonah Hill dan Channing Tatum, script oleh Michael Bacall dan Oren Uziel dari story Jonah Hill, Michael Bacall dengan sutradara Phil Lord dan Chris Miller. Ini adalah sekuel dari film tahun 2012 21 Jump Street yang juga berdasarkan serial televisi th 1987 dengan nama yang sama oleh Stephen J. Cannell dan Patrick Hasburgh.
Schmidt bertemu dengan seorang gadis dari jurusan Seni, Maya (Amber
Stevens), dan hatinya sudah mulai dilibatkan dalam hubungan tersebut.
Sementara Jenko bergabung dengan klub rugbi, dan menemukan sohib barunya
yang memiliki banyak kesamaan dengan dirinya, Zook (Wyatt Russell).
22 Jump Street dari segi alur cerita tidaklah
rumit. Dengan 112 menit durasi pemutarannya, Michael Bacall dan Oren
Uziel selaku penulis naskah mengemas kisahnya dengan sangat hidup dan
dekat dengan realitas sosialisasi di sebuah universitas. Hiburan
sekaligus tontonan menarik ada pada 22 Jump Street.
Jenis Film: Action, Comedy
Tanggal Rilis Umum: 13 Juni 2014
Distributor: Sony Pictures Releasing International
Pemain: Jonah Hill, Channing Tatum, Ice Cube, Amber Stevens
Sutradara: Phil Lord, Chris Miller
Format: 2D
Setelah beraksi di SMA lewat debutnya di 21 Jump Street (2012), kini petualangan baru pun menghampiri Schmidt (Jonah Hill) dan Jenko (Channing Tatum).Pada permulaan aksinya, Schmidt dan Jenko sama sekali tidak
menemukan petunjuk terkait kasus mereka. Meskipun demikian, dua sahabat
ini tetap berupaya membaur dengan para mahasiswa lewat cara mereka
masing-masing.
Perguruan Tinggi menjadi targetnya. Kapten Dickson (Ice Cube)
kembali menugasi Schmidt dan Jenko untuk menjadi mahasiswa tingkat satu
demi menyelidiki sebuah kasus narkoba. Keduanya diharuskan menemukan
bandar narkoba tersebut. Petunjuk yang mereka miliki hanya seorang gadis
pembeli yang sudah tewas, dan sebuah foto pria dengan tato unik.
Belum rampung terhadap kasus penyelidikan mereka, nampaknya Jenko
terlalu larut dengan keseruan masa-masa kuliah. Hal ini membuat Schmidt
dan Jenko harus menempuh jalan masing-masing dalam mencari petunjuk
tersebut.
Keadaan tak berlangsung seperti yang mereka harapkan. Satu per satu
kenyataan aneh dan konyol mulai menyeruak. Kekompakan Schmidt dan Jenko
sebagai mitra kini berada di ujung tanduk.
Jika dibandingkan dengan debutnya, 22 Jump Street
yang masih berada di bawah besutan Phil Lord dan Christopher Miller
tersebut menyuguhkan lebih banyak aksi-aksi konyol. Ya, pada 21 Jump Street saja sudah banyak adegan dan tingkah polah Schmidt dan Jenko yang mengocok perut, kali ini, keduanya akan lebih konyol lagi.
Tanggal Rilis Umum: 13 Juni 2014
Distributor: Sony Pictures Releasing International
Pemain: Jonah Hill, Channing Tatum, Ice Cube, Amber Stevens
Sutradara: Phil Lord, Chris Miller
Format: 2D
Rabu, 18 Juni 2014
MISS CHANGE : JIKA JIWAMU BISA BERTUKAR TUBUH
(Miseu Cheinji / 미스체인지)
Komedi Korea Selatan ini mengisahkan kehidupan Je Chil (
Song Sam-Dong) seorang pengacara yang sangat pecundang. Sejak masa remajanya sebenarnya ia sudah naksir cewe yang juga teman sekantornya, Soo-Hyun (Shin Yo-Joo) . Rasa mindernya terhadap wanita berpengaruh pula dalam pekerjaannya. Saat berhadapan dengan klien wanita, Je Chil merasakan otaknya membeku dan tak sanggup melakukan kontak mata dengan wanita. Alhasil berkali-kali ia menjadi sasaran amarah sang bos.
Pada suatu malam, saat berjalan menghindari hujan, Je Chil menemukan sosok wanita tak sadarkan diri (Lee So-Jeong). Bermaksud menolong, ia membopong wanita itu ke rumahnya. Sampai kemudian ia menyadari wanita misterius itu telah meninggal. Panik takut didakwa melakukan pembunuhan, Je Chil berupaya membuang mayat wanita itu. Namun tanpa sengaja justru ia mencium bibirnya.
Saat terbangun, Je Chil menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam tubuh wanita itu. Merasakan sesuatu yang aneh, Je Chil meminta bantuan teman serumahnya, Hyeon Goo (Jeong Eun-Woo). Mereka lalu berupaya mengembalikan keadaan menjadi normal. Dari muli browsing internet sampai menemui paranormal pun dilakukan. Sayang, semua sia-sia, sepertinya Je Chil akan terjebak dalam tubuh wanita selamanya.
Sutradara Jeong Cho-Sin cukup terkenal sebagai pembuat drama komedi Korea. Karyanya yang satu ini memiliki ide yang bukan baru tapi cukup menggelitik. Mengangkat konflik batin si pecundang Je Chil, penonton benar-benar dibuat gemas oleh kepandiran sang tokoh utama. Sepanjang durasi, Miss Change menyuguhkan komedi yang membuat terpingkal yang diselingi pesan moral menarik di beberapa dialog.
Song Sam-Dong layak diacungi jempol mampu membawakan perannya dengan nyaris tanpa cacat. Dibantu Jeong Eun-Woo, mereka menampilkan hubungan persahabatan rumit yang sedikit rumit. Bayangkan kelucuannya saat Hyeon jatuh cinta pada Je Chi yang berada dalam tubuh wanita. Bagi Anda penggemar Korean drama, jangan lewatkan film yang satu ini.
Rabu, 11 Juni 2014
X-MEN DAYS OF FUTURE PAST : MENAMBAL LUBANG INKONSISTENSI
X-Men: Days of Future Past diarahkan Bryan Singer sebagai sekuel tahun 2006: X-Men: The Last Stand dan Tahun 2011:X-Men: First Class. Merupakan instalemen ketujuh dalam franchise X-Men. Diambil dari komik tahun 1981 Uncanny X-Men, karya Chris Claremont dan John Byrne, berfokus pada dua jalinan kisah dalam dua periode waktu berbeda.
Wolverine dikirim kembali ke 1973 untuk menyelamatkan nasib para mutan. Menampilkan jajaran cast yang mumpuni seperti :Hugh Jackman, James McAvoy, Michael Fassbender, Jennifer Lawrence, Halle Berry, Anna Paquin, Ellen Page, Nicholas Hoult, Shawn Ashmore, Peter Dinklage, Ian McKellen dan Patrick Stewart. Naskahnya ditulis Simon Kinberg, Matthew Vaughn, dan Jane Goldman, dengan Kinberg mengerjakan screenplay.
Alkisah, pada 2023, ratusan hingga ribuan robot raksasa bernama Sentinel ditugaskan untuk menjaga keamanan dunia dari mutan. Mutan dianggap sebagai ancaman sehingga mereka pun dibasmi hingga mereka jadi makhluk langka. Parahnya, manusia-manusia pun dihabisi misalkan secara genetis mereka diprediksi akan memiliki anak seorang mutan.
Para Sentinel itu ternyata tidak ada dengan sendirinya. Keberadaan Sentinel di 2023 adalah hasil dari pembunuhan Bolivar Trask (Peter Dinklage), pencipta Sentinel, oleh mutan Raven "Mystique" Darkholme (Jennifer Lawrence) pada tahun 1973. Mystique menganggap Bolivar patut dibunuh karena Sentinel-nya didesain untuk mencari dan membunuh mutan. Sayang, perhitungan Mystique salah, pembunuhan Bolivar justru membuat pemerintah Amerika Serikat mendanai penuh program Sentinel hingga tahun 2023.
Untuk mencegah Sentinel ada di masa depan, Professor Charles 'X' Xavier (Patrick Stewart) dan Erik "Magneto" Lensher (Ian McKellen) menugaskan Kitty "Shadowcat" Pryde (Ellen Page) untuk mengirim kesadaran Wolverine ke tahun 70-an. Tujuannya, untuk mencegah pembunuhan Bolivar. Wolverine dipilih karena secara fisik dirinya mampu menahan efek dari pengiriman kesadaran ke masa lalu.
Ternyata, mencegah Mystique untuk membunuh Bolivar bukan perkara mudah bagi Wolverine. Profesor X muda (James McAvoy) yang ia harapkan untuk membantu ogah-ogahan sampai harus dipaksa. Magneto muda (Michael Fassbender) juga sama saja, bukannya membantu ia malah punya agenda-agenda sendiri yang tak jauh dari menyiksa manusia. Mystique apa lagi, keras kepala dan tutup telinga meski sudah diperingatkan bahwa rencananya membunuh Bolivar akan membawa efek buruk.
Apakah Wolverine berhasil menjalankan tugasnya. Yang diperbuat berefek ke masa depan. Dengan kata lain, kejadian-kejadian di film X-Men Days of Future Past secara otomatis menghapus seluruh kisah film X-Men, X2, X-Men The Last Stand, X-Men Origins, dan The Wolverine beserta seluruh lubang dan inkonsistensi yang mereka miliki.
Menghapus kisah-kisah lama X-Men dengan plot perjalanan ke masa lalu tak bisa dipungkiri adalah langkah cerdas tapi berisiko. Salah-salah, bukannya menambal lubang dari kisah-kisah lama, film ini malah bisa membuat lubang cerita atau inkonsisten baru.
Dalam film, soal inkonsistensi menjadi hal lumrah dalam film X-Men. Ada hal membuat film itu terkesan nggak nyambung atau dipaksakan. Sebagai contoh, bagaimana bisa ada tokoh Emma Frost (Tahyna Tozzi) muda di film X-Men Origins: Wolverine sementara di film X-Men First Class, yang mengambil setting sebelum Origins, ada tokoh Emma Frost (January Jones) juga dengan usia lebih tua.
Inkonsistensi ini menyandera film-film X-Men untuk berkembang. Di saat film-film seperti Captain America: The First Avengers, Thor, dan Iron Man bisa saling dihubungkan untuk film berskala besar seperti The Avengers, film-film X-Men tidak bisa karena harus ada lubang yang harus diperbaiki dulu.
Judulnya Days of Future Past yang ditulis oleh Chris Claremont dan digambar John Byrne pada tahun 1981. Oleh studio 20th Century Fox, kisah itu dimanfaatkan untuk memperbaiki lubang-lubang yang ada di film-film X-Men sebelumnya agar wara laba itu bisa berkembang.
Namun, duo sutradara Bryan Singer dan penulis cerita Simon Kinberg, berhasil membuat kisah X-Men yang begitu rapih, menghapus segala kekurangan pada film sebelumnya, sekaligus memasang jalur baru untuk film-film X-Men berikutnya.
Keberhasilan X-Men Days of Future Past menceritakan perjalanan waktu karena kisahnya dibuat lugas. Tidak pakai bertele-tele, cerita utamanya jelas, mencegah bencana di masa lampau untuk mencegah bencana di masa depan. Tak ada subplot romantika aneh yang membuat cerita utamanya tertutup.
Tiap karakter dalam X-Men Days of Future Past juga digambarkan dengan baik. Masing-masing memiliki peran dan tugas yang jelas. Alhasil, keberadaan mereka terasa menonjol dan memiliki ikatan jelas dengan kisah utama filmnya.
Perihal sekuens laga, tak ada kata lain selain menegangkan. Tiap adegan laga disusun dengan koreografi yang menarik hingga mampu membetot emosi. Salah satu adegan yang begitu memorable adalah adegan pembebasan Magneto dari penjara beton di Pentagon oleh Peter "Quicksilver" Maximoff (Evan Peters), seorang mutan yang mampu bergerak sangat cepat sampai-sampai bisa mengubah arah datangnya peluru.
Evan Peters mencuri perhatian sebagai Quicksilver yang menjadi tokoh yang menghidupkan ceita. Jackman meneruskan kharisma sebagai Wolverine. Fassbender dan McAvoy seperti biasa tampil lugas dan berkarakter. Bisa jadi X Men tetap film superhero terbaik dari sisi ini. Apalagi Bryan Singer kembali menyutradarai.
Langganan:
Postingan (Atom)











































