Tampilkan postingan dengan label Jennifer Lawrence. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jennifer Lawrence. Tampilkan semua postingan
Rabu, 11 Juni 2014
X-MEN DAYS OF FUTURE PAST : MENAMBAL LUBANG INKONSISTENSI
X-Men: Days of Future Past diarahkan Bryan Singer sebagai sekuel tahun 2006: X-Men: The Last Stand dan Tahun 2011:X-Men: First Class. Merupakan instalemen ketujuh dalam franchise X-Men. Diambil dari komik tahun 1981 Uncanny X-Men, karya Chris Claremont dan John Byrne, berfokus pada dua jalinan kisah dalam dua periode waktu berbeda.
Wolverine dikirim kembali ke 1973 untuk menyelamatkan nasib para mutan. Menampilkan jajaran cast yang mumpuni seperti :Hugh Jackman, James McAvoy, Michael Fassbender, Jennifer Lawrence, Halle Berry, Anna Paquin, Ellen Page, Nicholas Hoult, Shawn Ashmore, Peter Dinklage, Ian McKellen dan Patrick Stewart. Naskahnya ditulis Simon Kinberg, Matthew Vaughn, dan Jane Goldman, dengan Kinberg mengerjakan screenplay.
Alkisah, pada 2023, ratusan hingga ribuan robot raksasa bernama Sentinel ditugaskan untuk menjaga keamanan dunia dari mutan. Mutan dianggap sebagai ancaman sehingga mereka pun dibasmi hingga mereka jadi makhluk langka. Parahnya, manusia-manusia pun dihabisi misalkan secara genetis mereka diprediksi akan memiliki anak seorang mutan.
Para Sentinel itu ternyata tidak ada dengan sendirinya. Keberadaan Sentinel di 2023 adalah hasil dari pembunuhan Bolivar Trask (Peter Dinklage), pencipta Sentinel, oleh mutan Raven "Mystique" Darkholme (Jennifer Lawrence) pada tahun 1973. Mystique menganggap Bolivar patut dibunuh karena Sentinel-nya didesain untuk mencari dan membunuh mutan. Sayang, perhitungan Mystique salah, pembunuhan Bolivar justru membuat pemerintah Amerika Serikat mendanai penuh program Sentinel hingga tahun 2023.
Untuk mencegah Sentinel ada di masa depan, Professor Charles 'X' Xavier (Patrick Stewart) dan Erik "Magneto" Lensher (Ian McKellen) menugaskan Kitty "Shadowcat" Pryde (Ellen Page) untuk mengirim kesadaran Wolverine ke tahun 70-an. Tujuannya, untuk mencegah pembunuhan Bolivar. Wolverine dipilih karena secara fisik dirinya mampu menahan efek dari pengiriman kesadaran ke masa lalu.
Ternyata, mencegah Mystique untuk membunuh Bolivar bukan perkara mudah bagi Wolverine. Profesor X muda (James McAvoy) yang ia harapkan untuk membantu ogah-ogahan sampai harus dipaksa. Magneto muda (Michael Fassbender) juga sama saja, bukannya membantu ia malah punya agenda-agenda sendiri yang tak jauh dari menyiksa manusia. Mystique apa lagi, keras kepala dan tutup telinga meski sudah diperingatkan bahwa rencananya membunuh Bolivar akan membawa efek buruk.
Apakah Wolverine berhasil menjalankan tugasnya. Yang diperbuat berefek ke masa depan. Dengan kata lain, kejadian-kejadian di film X-Men Days of Future Past secara otomatis menghapus seluruh kisah film X-Men, X2, X-Men The Last Stand, X-Men Origins, dan The Wolverine beserta seluruh lubang dan inkonsistensi yang mereka miliki.
Menghapus kisah-kisah lama X-Men dengan plot perjalanan ke masa lalu tak bisa dipungkiri adalah langkah cerdas tapi berisiko. Salah-salah, bukannya menambal lubang dari kisah-kisah lama, film ini malah bisa membuat lubang cerita atau inkonsisten baru.
Dalam film, soal inkonsistensi menjadi hal lumrah dalam film X-Men. Ada hal membuat film itu terkesan nggak nyambung atau dipaksakan. Sebagai contoh, bagaimana bisa ada tokoh Emma Frost (Tahyna Tozzi) muda di film X-Men Origins: Wolverine sementara di film X-Men First Class, yang mengambil setting sebelum Origins, ada tokoh Emma Frost (January Jones) juga dengan usia lebih tua.
Inkonsistensi ini menyandera film-film X-Men untuk berkembang. Di saat film-film seperti Captain America: The First Avengers, Thor, dan Iron Man bisa saling dihubungkan untuk film berskala besar seperti The Avengers, film-film X-Men tidak bisa karena harus ada lubang yang harus diperbaiki dulu.
Judulnya Days of Future Past yang ditulis oleh Chris Claremont dan digambar John Byrne pada tahun 1981. Oleh studio 20th Century Fox, kisah itu dimanfaatkan untuk memperbaiki lubang-lubang yang ada di film-film X-Men sebelumnya agar wara laba itu bisa berkembang.
Namun, duo sutradara Bryan Singer dan penulis cerita Simon Kinberg, berhasil membuat kisah X-Men yang begitu rapih, menghapus segala kekurangan pada film sebelumnya, sekaligus memasang jalur baru untuk film-film X-Men berikutnya.
Keberhasilan X-Men Days of Future Past menceritakan perjalanan waktu karena kisahnya dibuat lugas. Tidak pakai bertele-tele, cerita utamanya jelas, mencegah bencana di masa lampau untuk mencegah bencana di masa depan. Tak ada subplot romantika aneh yang membuat cerita utamanya tertutup.
Tiap karakter dalam X-Men Days of Future Past juga digambarkan dengan baik. Masing-masing memiliki peran dan tugas yang jelas. Alhasil, keberadaan mereka terasa menonjol dan memiliki ikatan jelas dengan kisah utama filmnya.
Perihal sekuens laga, tak ada kata lain selain menegangkan. Tiap adegan laga disusun dengan koreografi yang menarik hingga mampu membetot emosi. Salah satu adegan yang begitu memorable adalah adegan pembebasan Magneto dari penjara beton di Pentagon oleh Peter "Quicksilver" Maximoff (Evan Peters), seorang mutan yang mampu bergerak sangat cepat sampai-sampai bisa mengubah arah datangnya peluru.
Evan Peters mencuri perhatian sebagai Quicksilver yang menjadi tokoh yang menghidupkan ceita. Jackman meneruskan kharisma sebagai Wolverine. Fassbender dan McAvoy seperti biasa tampil lugas dan berkarakter. Bisa jadi X Men tetap film superhero terbaik dari sisi ini. Apalagi Bryan Singer kembali menyutradarai.
Jumat, 04 April 2014
HOUSE OF THE END OF THE STREET : SAAT JENNIFER LAWRENCE BERMAIN FILM THRILLER
Siapa tak mnengenal Jennifer Lawrence. Pendatang baru yang
mengejutkan dalam The Hunger Games. Semenjak Winter's Bone nama Jennifer
Lawrence jadi salah satu aset paling panas Hollywood. Selain tergabung
dalam dua franchise besar yakni X-Men dan The Hunger Games, ia sempat
membintangi film macam Like Crazy dan The Beaver-nya Jodie Foster. Ia
dijagokan pula mendapat nominasi Oscar (lagi) untuk Best Actress
melalui Silver Linings Playbook. Seolah karir aktris yang baru berumur
22 tahun ini nyaris tanpa cela dengan mampu menyeimbangkan kualitas dan
sisi komersil. Tapi entah bagaimana ceritanya Jennifer Lawrence bisa
terdampar di sebuah film seburuk House at the End of the Street.
Film thriller yang punya trailer cukup menyeramkan ini berkisah tentang Elissa, seorang gadis SMA yang baru saja pindah rumah dan tinggal bersama sang ibu (Elisabeth Sue). Mereka berdua pindah ke pinggiran kota tersebut dengan harapan bisa memulai hidup baru dengan lebih damai dan bahagia. Tapi ternyata terdapat sebuah misteri dan sejarah kelam di tempat tersebut. Dalam rumah yang berada di seberang rumah mereka berdua ternyata sempat terjadi sebuah tragedi berdarah.
Beberapa tahun yang lalu seorang gadis cilik bernama Carrie-Ann membunuh kedua orang tuanya dengan sadis lalu menghilang entah kemana. Kabar mengatakan ia mati tenggelam. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa Carrie-Ann masih hidup didalam hutan. Elissa sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan ketakutan warga akan kisah tersebut. Dia malah berteman akrab bahkan mulai jatuh cinta dengan Ryan Jacobson (Max Thieriot) yang tidak lain adalah kakak laki-laki dari Carrie-Ann yang sekarang tinggal sendirian dirumah tersebut.
Beberapa movie mania setuju bahwa film karya sutradara Mark Tonderai ini jelas sama sekali tidak menyeramkan ataupun menegangkan. Tidak ada momen yang bisa membuat penonton berdebar-debar melihatnya.Tensi yang terasa datar-datar saja bahkan membosankan, membuat mungkin beberapa penonton meninggalkan kursi bioskop lebih awal. Alur ceritanya klise dari awal sampai filmnya berakhir. Tidak ada misteri yang cukup menarik yang membuat penasaran. Bahkan twist yang dimunculkan sudah bisa tertebak. Kerancuan pada naskah yang memadukan drama dengan ketegangan gagal mengangkat film ini.
Sebenarnya itu adalah pilihan yang bagus untuk membuat filmnya menarik. Sayangnya House at the End of the Street terlalu dangkal. Berbagai konflik yang ada sangat terasa dipaksakan. Porsi dan peranan masing-masing karakternya juga terasa sangat asal dan dipaksakan. Pada akhirnya penonton dibuat bingung dengan porsi para karakternya yang cukup sering muncul lalu kemudian hilang lagi tanpa diketahui nasibnya. Sat hal positif dari film ini adalah Jennifer Lawrence yang patut mendapat pujian. Sebenarnya sosok Elissa bisa menjadi tokoh wanita standar dalam film thriller Hollywood, tapi pembawaan yang dilakukan Jennifer Lawrence membuat karakternya jauh lebih menarik dan mudah disukai. Bisa jadi penonton menikmati film ini cuma gara-gara adanya Jennifer Lawrence dengan akting yang baik, tampilan yang seksi, dan suara yang merdu saat ada adegan ia bernyanyi dengan gitar meski sangat sebentar. Elisabeth Shue juga tampil tidak buruk sebagai ibu Elissa. Max Thieriot terlihat kebingungan memainkan Ryan yang kompleks, dan Gil Bellows menggelikan sebagai seorang polisi.
House at the End of the Street adalah sebuah usaha membuat psychological-thriller yang gagal meraih tujuan utamanya. Hasilnya adalah sebuah film yang katanya horror tapi tidak seram, mengusung thriller tapi tidak menegangkan, berniat memperdalam hubungan antar karakter dan konflik drama tapi akhirnya berkesan dipaksakan dan asal-asalan, dan sebuah film yang berniat menjadi thriller cerdas penuh twist tapi sayang jatuhnya bodoh.
Film thriller yang punya trailer cukup menyeramkan ini berkisah tentang Elissa, seorang gadis SMA yang baru saja pindah rumah dan tinggal bersama sang ibu (Elisabeth Sue). Mereka berdua pindah ke pinggiran kota tersebut dengan harapan bisa memulai hidup baru dengan lebih damai dan bahagia. Tapi ternyata terdapat sebuah misteri dan sejarah kelam di tempat tersebut. Dalam rumah yang berada di seberang rumah mereka berdua ternyata sempat terjadi sebuah tragedi berdarah.
Beberapa tahun yang lalu seorang gadis cilik bernama Carrie-Ann membunuh kedua orang tuanya dengan sadis lalu menghilang entah kemana. Kabar mengatakan ia mati tenggelam. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa Carrie-Ann masih hidup didalam hutan. Elissa sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan ketakutan warga akan kisah tersebut. Dia malah berteman akrab bahkan mulai jatuh cinta dengan Ryan Jacobson (Max Thieriot) yang tidak lain adalah kakak laki-laki dari Carrie-Ann yang sekarang tinggal sendirian dirumah tersebut.
Beberapa movie mania setuju bahwa film karya sutradara Mark Tonderai ini jelas sama sekali tidak menyeramkan ataupun menegangkan. Tidak ada momen yang bisa membuat penonton berdebar-debar melihatnya.Tensi yang terasa datar-datar saja bahkan membosankan, membuat mungkin beberapa penonton meninggalkan kursi bioskop lebih awal. Alur ceritanya klise dari awal sampai filmnya berakhir. Tidak ada misteri yang cukup menarik yang membuat penasaran. Bahkan twist yang dimunculkan sudah bisa tertebak. Kerancuan pada naskah yang memadukan drama dengan ketegangan gagal mengangkat film ini.
Sebenarnya itu adalah pilihan yang bagus untuk membuat filmnya menarik. Sayangnya House at the End of the Street terlalu dangkal. Berbagai konflik yang ada sangat terasa dipaksakan. Porsi dan peranan masing-masing karakternya juga terasa sangat asal dan dipaksakan. Pada akhirnya penonton dibuat bingung dengan porsi para karakternya yang cukup sering muncul lalu kemudian hilang lagi tanpa diketahui nasibnya. Sat hal positif dari film ini adalah Jennifer Lawrence yang patut mendapat pujian. Sebenarnya sosok Elissa bisa menjadi tokoh wanita standar dalam film thriller Hollywood, tapi pembawaan yang dilakukan Jennifer Lawrence membuat karakternya jauh lebih menarik dan mudah disukai. Bisa jadi penonton menikmati film ini cuma gara-gara adanya Jennifer Lawrence dengan akting yang baik, tampilan yang seksi, dan suara yang merdu saat ada adegan ia bernyanyi dengan gitar meski sangat sebentar. Elisabeth Shue juga tampil tidak buruk sebagai ibu Elissa. Max Thieriot terlihat kebingungan memainkan Ryan yang kompleks, dan Gil Bellows menggelikan sebagai seorang polisi.
House at the End of the Street adalah sebuah usaha membuat psychological-thriller yang gagal meraih tujuan utamanya. Hasilnya adalah sebuah film yang katanya horror tapi tidak seram, mengusung thriller tapi tidak menegangkan, berniat memperdalam hubungan antar karakter dan konflik drama tapi akhirnya berkesan dipaksakan dan asal-asalan, dan sebuah film yang berniat menjadi thriller cerdas penuh twist tapi sayang jatuhnya bodoh.
Langganan:
Postingan (Atom)




















